Catatan Malam Keakraban Elektro ITB “Elektro Together Forever”

Catatan Malam Keakraban Elektro ITB “Elektro Together Forever”, 21 April 2010
-    Alumni Elektro sumbang 2,8 Milyar Rupiah kepada STEI-ITB
-    Proses penyelesaian plagiarisme yang menimpa STEI ITB cukup panjang
-    Letusan gunung di Islandia mengacaukan jadwal penerbangan, menyebabkan personel Sempalan Band EL’ 90 yang mestinya mengisi acara tertahan di Eropa

 


Sejak jam 17.45 peserta Malam Keakraban Elektro “Elektro Together Forever” mulai berdatangan memenuhi ruangan Mario’s Place. Nampak ketua panitia Hammam Riza (EL’81) dan panitia inti lainnya termasuk Nurman Numeiri (El’93) dan Gusti Ayu Meliati (EL 2004) mempersiapkan  ruangan untuk kenyamanan peserta nantinya.  Tersebarnya kasus plagiarisme yang menimpa STEI-ITB, yang dilakukan oleh MZ, mantan mahasiswa S3 ITB, bisa jadi merupakan salah satu pemicu membludaknya jumlah peserta yang datang. Mereka seakan ingin mengukuhkan nilai kebersamaan alumni elektro yang sudah dibina selama ini.  Lebih dari 200 orang alumni dan atau rekannya hadir memenuhi ruangan Mario’s Place yang disediakan panitia.

Seperti biasa acara dimulai dengan kehadiran MC kawakan Elfi Malano EL’82 yang dibantu oleh MC Kartini Muda dari Elektro 2003. Karena MC pasangannya juga dari Elektro, dengan serta merta MC Elfi mengeluarkan jurus-jurus kocak mengenai listrik, bak masa praktikum di lab konversi energi.

Ketua Panitia, Hammam Riza El’81 segera  membuka acara malam keakraban elektro ITB secara resmi. Kemudian disusul dengan alunan lagu dari band Kartini (Cleo)yang merupakan grup band dengan  semua personelnya adalah wanita, dua diantaranya dari ITB. Sambil menikmati alukan lagu dari Band Kartini, alumni menyantap hidangan makan malam yang disediakan oleh panitai.

Selesai suguhan lagu dari band Kartini, ketua IAE-ITB Arief Yahya (EL ’80) memberikan informasi yang membuat alumni patut bangga. Bagaimana tidak, dalam waktu 6 bulan, IAE-ITB sudah menyumbangkan total sumbangan senilai 2,8 Milyar rupiah kepada STEI. Itu berarti kurang 2,2 Milyar rupiah dari target yang mesti dicapai dalam 4 tahun kedepan.

Mendengar itu, MC-pun segera meminta IAE miningkatkan targetnya, yang tentu saja masih dibalas dengan tawa kecil oleh ketua IAE. Setalah sambutan ketua IAE, BandIT dan BandEL segera mengisi panggung . Dimotori oleh Budi Rahardjo dan Hammam Riza, mereka melantunkan tembang 80-an yang terasa enak didengar.

Kemudian giliran Prof. Adang Suwandi Dekan STEI ITB, yang menyempatkan datang, memberikan penjelasan mengenai kasus plagiarisme yang menimpa ITB. STEI yang mengambil nama sekolah, bukan fakultas, merupakan gabungan dua departemen yang rumpunnya lebih tajam dibanding departemen yang tergabung dalam fakultas. Elektro dan Informatika dinilai memiliki rumpun yang lebih erat. Saat ini STEI ITB sedang mencari akreditasi International. Dari sisi dana operational, STEI juga sangat besar, bahkan lebih besar dari dana operasional salah satu kampus di Indonesia Timur.

Kini STEI sedang diuji dengan adanya kasus plagiarism yang dilakukan oleh mantan mahasiswa S3-nya. Awalnya MZ disponsori oleh Prof. Kudrat yang kemudian dialihkan ke Prof. Charmadi Machbud sebagai pembimbing utama. Menurut penjelasannya, sebenarnya proses penyelesaian atas kasus ini sudah lama, jauh sebelum kasus ini menyebar luas, dimulai setelah ITB mendapat konfirmasi dari IEEE bahwa telah terjadi plagiasi atas makalah 'On 3D Topological Relationships' yang disubmit oleh MZ dalam IEEE conference pada akhir tahun 2008. IEEE sendiri mendapatkan laporan dari penulis makalah yang dijiplak yaitu Siyka Zlatanova.

Co-author yang tercantum dalam makalah 'On 3D Topological Relationships' tidak tahu mengenai asal-usul Makalah MZ yang ternyata diambil sari makalah Ziyka tersebut. IEEE sebuah lembaga yang sangat disegani, lewat proses yang matang, sudah menjatuhkan sanksi yang fair kepada MZ. MZ tidak diperkenankan mengirimkan makalah atau tulisan apapun kepada IEEE selama 3 tahun. IEEE menilai 3 co-author yang disebutkan dalam tulisan tersebut tidak bersalah. Semua civitas akademika ITB lain juga tidak lantas dilarang mengirim tulisan ke IEEE. Mereka semua boleh dan malah dipersilahkan untuk tetap menulis di IEEE. Bahkah saat ini mahasiswa Elektro ITB yang tergabung dalam tim Palapa masuk nominasi 15 besar lomba yang diselenggarakan oleh IEEE.

STEI ITB kemudian melakukan investigasi atas disertasi MZ dengan membentuk tim yang diketuai oleh Pak Ari, salah satu dosen STEI. Dan seperti sudah diduga, disertasi MZ juga merupakan karya jiplakan dari karya Ziyka. Atas temuan tersebut, ITB membentuk komisi kehormatan. Komisi ini bukanlah tim yang berhak memberikan sanksi karena ia hanyalah tim yang tugasnya memberikan rekomendasi. Tim Kehormatan merekomendasikan bahwa :
-          Disertasi MZ adalah Plagiat
-          Merekomendasikan agar gelar doktor MZ dicabut.

Nasib tak dapat ditolak, untung tak bisa diraih, sebelum keputusan diambil, berita mengenai kasus plagiat yang dilakukan oleh mantan mahasiswa S3 Elektro ITB tersebut sudah menyebar. Dan syukurlah, ITB seperti disampaikan oleh Rektor ITB pada tanggal 23 April 2010 di depan gedung rektorat ITB, sudah memberikan sanksi akademik yang sangat berat kepada MZ. ITB secara resmi mencopot gelar doktor MZ. Seperti kita maklumi, pencopotan gelar adalah sanksi yang terberat didunia akademik. Pembimbing yang dinilai oleh IEEE tidak bersalah, oleh ITB juga diberikan teguran tertulis. Dibidang akademik teguran tertulis bagi seorang profesor maupun doktor dinilai sebagai sanksi yang berat. Demikianlah ITB sudah bertindak fair atas masalah ini. Bagaimana dengan kita?

Belajar dari kejadian tersebut, STEI akan memperketat proses desertasi S3. Meskipun sebenarnya saat ini untuk seleksi S3 sangat ketat karena termasuk rekomendasi dari calon dosen pembimbing, ada proses wawancara dan review performance kemajuan pertama. Jika mahasiswa S3 gagal dalam review performance kemajuan pertama, yang bersangkutan tidak bisa melanjutkan ke  sidang tertutup, sidang pratertutup dan sidang terbuka sebagai prasarat kelulusannya selanjutnya.

 


Kerjasama dual degree master dengan TU Delft, saat ini juga masih tetap berlangsung. STEI juga menjalin kerjasama dengan Toshiba, Panasonic dan Sanken. Toshiba meminta lulusan STEI agar bisa bekerja di pusat riset chipnya. STEI mengerjakan proyek perbaikan disain chip di Panasonic. Sementara oleh Sanken, STEI diminta untuk bisa meningkatkan performance produk mereka.


Tim Palapa yang masuk nominasi 15 besar lomba IEEE juga datang untuk sharing informasi mengenai kegiatan seputar proyek Palapa yang mereka kerjakan. Alumni yang mendengar hal ini juga turut bangga.  Merekalah kelak cikal-bakal penerus api kebersamaan elektro ITB yang membanggakan.


Selesai sharing informasi dengan Dekan STEI dan HME, acara dilanjutkan dengan kehadiran band undangan, Gumilang (El ‘76), yang mengisi acara dengan begitu apiknya. Tanpa alat, sari mulutnya terdengar aluman saxsofone yang mempesona.  Sementara itu Sempalan band (EL ’90) yang dijadwalkan turut mengisi panggung, tertahan di Eropa karena pesawat yang mestinya membawa personel band ini mesti digrounded menyusul larangan terbang karena letusan gunung berapa di Islandia.


Karena malam keakraban berbarengan dengan malam kartini, Band Kartini boleh manggung lagi setelah invited band Gumilang. Mereka membawakan lagu-lagu yang sedianya akan dijadikan album perdana mereka, karya mereka sendiri.


Sebagai penutup, Dband yang seluruhnya digawangi oleh alumni elektro 2003 tampil membawakan lagu-lagu yang lebih ‘muda’ lebih ‘kini’.

Salam,
-yohan-